Monday, February 14, 2011

mama dan budaya Jawa


This is a story about my lovely mother. She is the best mother in the world. She is number one for me..


 Claudia Mujiati
Mungkin akan sedikit aneh mendengar nama “Claudia”. Ya, mama tadinya adalah seorang nasrani; katolik tepatnya. Kemudian saat bertemu dengan papa, beliau bertekad untuk menjadi seorang mualaf. Kalimat syahadat dilantunkan menjelang pernikahan..
Mama lahir di Semarang, 11 September 1961. Meskipun lahir di Semarang, tetapi sebenarnya darah Jogjalah yang mengalir dalam diri mama. Kedua orang tuanya (kakek dan nenek) adalah orang Jogja asli. Setelah melahirkan anak pertama dan kedua (mama anak keempat) di kota asal, mereka memutuskan untuk merantau ke Semarang. Begitulah, akhirnya mama lahir di Semarang. Tempat perantauan kakek dan nenek dan akhirnya menjadi tempat tinggal mereka.
Mama berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Kakek hanyalah seorang buruh pabrik roti. Sedangkan nenek hanya ibu rumah tangga yang mengurus keenam anaknya. Namun, dari kesederhanaan itulah, sifat mama menjadi sangat matang. Beliau memiliki pendirian yang teguh, bekerja keras, disiplin, dan sangat menjunjung tinggi tata karma dan kesopan santunan. Sesuatu yang tak bisa kulupakan darinya adalah rasa cinta terhadap kebudayaan Jawa. Entahlah, mungkin ikatannya terhadap budaya Jogja yang membuatnya seperti itu. Mama selalu mengajarkan pada anaknya untuk selalu menggunakan basa krama saat berbicara dengannya. Mamapun akan sangat tidak suka jika melihat anak-anak (Jawa khususnya) sekarang diajari untuk berbahasa Indonesia dalam kesehariannya.
“Mereka itu sok! Sok berbahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia itu mudah dipelajari. Lihat saja, bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Jadi, anak pasti akan bisa berbahasa Indonesia saat besar nanti. Lain halnya dengan basa krama. Bukan perkara mudah berbicara dengan bahasa Jawa yang santun. Jika tidak dipelajari dari kecil, tentu akan sangat sulit bagi mereka untuk menerapkannya dalam berkomunikasi. Lantas, siapa yang akan melestarikan bahasa Jawa jika anak-anak sekarang saja berbahasa Indonesia?”. Kira-kira seperti itulah yang selalu mama katakan saat melihat anak-anak tetangga di sekitar mulai berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa seperti yang mama harapkan. Mama sebenarnya juga orang yang sangat keras kepala. Jika ada sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikirannya, mama jarang bisa menerimanya. Contohnya saja melihat keponakan yang kesehariannya berbahasa Indonesia. Mama tak segan-segan untuk menegur kedua orang tua anak tersebut. Saat anak tersebut berbicara dengan mama tidak menggunakan basa karma, mama tidak akan menyahut apapun yang anak itu tanyakan padanya. Hmm, sedikit kejam. Tapi itulah mama. Meskipun keras, tapi maksud mama sangat mulia: melestarikan bahasa Jawa. Pesan mama kepada anak-anaknya: “Ajarilah anakmu menjadi orang Jawa yang berbudaya. Ajarilah sopan santun dan tata karma seperti orang Jawa. Ajarilah anakmu basa krama ketika berbicara dengan orang yang lebih tua darinya.”
Memang benar yang dikatakan mama. Jika generasi sekarang saja tidak mau melestarikan bahasa Jawa, maka bahasa Jawa akan semakin punah. Bisa-bisa orang Jawa nantinya akan belajar bahasa Jawa di negeri Belanda. Hal itu mungkin saja terjadi. Mengingat sekarang ini justru banyak sekali orang Belanda yang berbondong-bondong untuk mempelajari bahasa Jawa. Tragis.

*part 1- finish*

artikel bagus (hmm,, entahlah)


Politik Uang dan Minimalitas Pemahaman Demokrasi
di Indonesia
oleh: Arisa Nur Aini

Indonesia merupakan negara demokrasi. Namun krisis demokrasi justru melanda negara Indonesia yang merupakan penganut paham demokrasi itu sendiri. Salah satu indikasinya adalah semakin maraknya transaksi jual beli suara atau politik uang. Bukan hal yang tabu lagi mendengar kalimat yang menang yang punya uang, karena pada kenyataan di lapangan memang menunjukkan kebenaran hal tersebut.
Informasi yang didapat dari laman Wikipedia menyebutkan istilah demokrasi berasal dari Yunani, demos  yang artinya rakyat dan cratein yang artinya pemerintah. Pemahaman yang paling sederhana dan paling banyak diketahui oleh masyarakat umum mengenai pengertian demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu suatu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan banyak orang (rakyat).
Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut: (1) adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan), (2) adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang, (3) adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara, (4) adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat.
Melalui ciri-ciri demokrasi, dapat diketahui bahwa pemilihan umum dan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan politik memang harus dilakukan bagi negara penganut  paham demokrasi. Namun sayang sekali, semakin lama banyak penyimpangan yang terjadi dalam penyelenggaraan pemilu. Salah satunya adalah money politics.
Maraknya Politik Uang
Politik uang seolah sudah membudaya dan menjangkiti pola pikir politisi. Sehingga, muncul anggapan yang keliru bahwa jika ingin berkompetisi di bidang politik diperlukan uang dalam jumlah besar. Tidak hanya dalam wujudnya yang nyata dan kelihatan, politik uang juga bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Selain itu, politik uang juga bisa berkaitan dengan orang dalam (pejabat yang terkait) dan masyarakat luas sebagai pemilih dan penentu suara dalam pemilu.
Sebelum terjun menjadi calon legislatif yang sah, biasanya para kandidat harus melakukan seleksi uji kelayakan. Pada tahap awal ini saja, politik uang sangat terasa. Suap merupakan bukti nyata politik uang dalam tahap penyeleksian. Biasanya ada kandidat yang tidak bisa memenuhi beberapa persyaratan yang diajukan. Namun dengan uang suap yang diberikan kepada pejabat yang terkait, syarat yang tadinya masih kurang itu secara ajaib bisa terpenuhi. Setelah semua syarat terpenuhi, maka loloslah sang kandidat yang seharusnya tidak berkompeten untuk mencalonkan diri.
Setelah menjadi calon yang sah, para kandidat ini mulai berlomba-lomba untuk mempromosikan diri di masyarakat. Kampanye terselubung mulai merajalela. Masyarakat kecil lah yang menjadi sasaran empuknya. Karena masyarakat kecil sangat mudah dipengaruhi oleh iming-iming uang yang tak seberapa. Di sini, suara mulai diperjual-belikan. Ada uang, ada suara yang diberikan bagi sang kandidat.
Ujung dari politik uang ini nantinya berimbas pada negara. Kandidat yang terpilih telah mengeluarkan biaya dalam jumlah yang besar akan segera mencari ganti rugi. Jalan tercepatnya adalah korupsi. Negara dirugikan sangat banyak oleh pejabat yang tidak tahu diri ini. Setelah terpilih, justru amanat dari masyarakat terabaikan dan mulai memperkaya diri sendiri. Ironis sekali memang. Tapi itulah kenyataan yang terjadi di kancah politik Indonesia.
Demokrasi di Mata Masyarakat
Paham Demokrasi diciptakan untuk mengajak semua lapisan masyarakat berperan dalam roda pemerintahan negara. Adanya para pemimpin pun hanya sebagai wakil dari begitu banyaknya masyarakat di negara Indonesia. Masyarakat Indonesia yang heteregon, terdiri dari berbagai lapisan masyarakat menyebabkan perlu adanya sosok yang bisa mewakili aspirasi mereka. Tetapi, tak sedikit masyarakat yang belum paham benar mengenai demokrasi yang dijalankan. Bahkan cara pandang masyarakat terhadap sistem politik ini sangat menyimpang jauh.
Pemahaman akan demokrasi bagi masyarakat diumpamakan seperti pemahaman sebuah buku tebal ribuan halaman mengenai sistem politik negara. Masyarakat tahu buku itu, membaca judulnya, tapi sedikit saja yang mau membaca isinya. Karena bagi masyarakat sendiri, ada terlalu banyak buku yang lebih dekat dengan kehidupan, lebih dekat dengan keseharian yang perlu mereka pahami ketimbang mengurusi sistem politik. Maka jelas sekali, dari mana masyarakat bisa paham dan menerapkan demokrasi dengan benar, jika hanya berlandaskan pemahaman luarnya saja.
Pemilu sebagai tonggak demokrasi di Indonesia menjadi salah kaprah penerapannya. Dewasa ini jika akan ada pemilihan umum, entah itu pemilu di tingkat nasional (pemilu legislatif) atau di tingkat lokal (pemilihan kepala daerah), masyarakat pasti menantikan adanya kampanye yang dilakukan oleh para kandidat. Tetapi bukan visi atau misi yang mereka tunggu, melainkan amplop yang dibagikan oleh kandidat yang sedang berkampanye. Hal ini menunjukkan pembodohan politik di masyarakat. Karena nantinya kandidat yang terpilih justru kandidat yang sama sekali tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menjadi sang wakil rakyat. Masyarakat
Bagi masyarakat, demokrasi bukan untuk mereka. Tetapi untuk orang-orang atas, orang-orang yang berada di kursi jabatan. Istilah wong cilik yang begitu melekat pada masyarakat kelas bawah yang merupakan mayoritas di Indonesia, memberikan pengertian bahwa masyarakat hanya mengikuti saja apa kata orang yang lebih berkuasa. Sehingga tidak masalah jika mereka memperjual-belikan suara dengan uang pada pemilihan umum. Karena hal nyata yang dihadapi adalah faktor ekonomi yang tidak memadai.
Kesadaran masyarakat dalam sistem demokrasi di Indonesia harus ditingkatkan. Jangan sampai pemahaman mereka semakin tergerus oleh hal-hal yang negatif, yang mampu merusak tatanan demokrasi itu sendiri. Jika kesadaran masyarakat semakin meningkat, maka praktik politik uang untuk membeli suara bisa ditekan kehadirannya.
Memberantas politik uang adalah salah satu upaya dalam menegakkan kembali pengertian demokrasi yang sudah melenceng jauh. Pengawasan terhadap gerakan para kandidat perlu ditingkatkan. Jangan  sampai suara sampai terbeli oleh uang. Jika politik uang ini bisa hilang, maka tingkat korupsi di Indonesia juga pasti akan menurun.

Sam Poo Kong

Pengen share sama temen-temen, ini hasil tugas kuliah jurnalistiknya Risa.. :)
Siapa tahu ada yang berminat menerbitkannya? hohooo


Eksotisme Sam Poo Kong
Keberadaan Masjid dalam Klenteng, Adakah ?
oleh : Arisa Nur Aini

Saat melintas di daerah Simongan Semarang, saya menjumpai bangunan yang arsitekturnya begitu khas, Klenteng Sam Poo Kong. Gerbang besi warna kuning berhiaskan ukiran naga di atasnya siap menyambut siapa saja yang ingin menengok lebih dalam bangunan tersebut. Sejak kecil, saya sering sekali melewati bangunan tersebut. Tetapi baru sekali ini saya bersentuhan langsung dengan salah satu tempat ibadah penganut Tri Dharma.
Dulu klenteng Sam Poo Kong tidak semegah sekarang. Waktu itu tidak ada tembok tinggi yang mengitari klenteng. Warna merah yang dominan pada genting, tembok serta pilar-pilarnya juga belum terlalu menonjol. Kemudian pada tahun 2002 mengalami perombakan dan perubahan bentuk. Ibu saya bahkan pernah bertutur kalau dulunya klenteng ini adalah sebuah masjid. Cerita tersebut sempat membuat kening saya berkerut. Apa cerita perombakan masjid menjadi klenteng itu benar adanya?
Pada suatu sore yang cerah, saya putuskan untuk mengunjungi klenteng Sam Poo Kong. Sekedar melampiaskan rasa penasaran saya pada tempat yang dulu pernah disinggahi Laksamana Cheng Ho dan berharap mungkin saya bisa mendapatkan jawaban yang pasti tentang keberadaan masjid yang pernah diceritakan ibu saya. Ketika masuk, suasana China begitu kental terasa dengan unsur warna merah yang dominan, kuning, hijau dan emas. Ada beberapa bangunan di dalam kompleks ini: tiga kuil megah, satu pendopo tempat orang menjual dupa dan souvenir khas Sam Poo Kong, satu pendopo lagi bagi yang ingin berfoto sembari mengenakan kostum China, serta beberapa patung yang berderet di depan tiga kuil utama.

Sang Laksamana Ceng Hoo
Menurut informasi dari situs Wikipedia, nama klenteng atau kuil Sam Poo Kong ini diambil dari nama Laksamana Sam Poo Tay Djien atau dikenal dengan nama lain Zheng He (Cheng Ho), seorang taykam Kaisar Cheng Zu (dari Dinasti Ming) penganut agama Islam yang diutus untuk mencari mustika di daerah utara. Armada Cheng Ho adalah armada Cina pertama yang mendarat di Semarang pada tahun 1401 AD.
     Bangunan dalam klenteng



Deretan patung di halaman klenteng

Pada abad ke-15 terbentuk sebuah koloni dari komunitas muslim Tionghoa dan pribumi di muara Kaligarang. Saat itu garis pantai Semarang masih terletak di kaki perbukitan Simongan dan pantai Semarang merupakan pelabuhan penting yang banyak disinggahi para pedagang asing yang berasal dari Melayu, Cina dan Belanda.
Laksamana Cheng Ho memang sempat singgah di beberapa tempat di nusantara, termasuk di daerah Semarang. Saat berlayar dekat Semarang, seorang anak buah kapalnya sakit keras. Maka, ia segera memerintahkan agar kapal merapat dan mencari pengobatan bagi sang anak buah. Cheng Ho kemudian beristirahat di dalam sebuah gua yang kini menjadi bangunan inti klenteng ini.
Setelah Cheng Ho kembali melanjutkan perjalanan, gua peninggalannya  tertimbun tanah longsor pada tahun 1704 dan sebagai penghormatan masyarakat setempat menggali gua baru serta membangun altar yang dilengkapi dengan patung Cheng Ho dan pengawalnya. Saat ini gua tersebut digunakan sebagai tempat meramal nasib yaitu dengan menggunakan tongkat-tongkat kecil yang dilemparkan ke lantai.

Patung Laksamana Cheng Ho

Sepeninggal Cheng Ho, daerah Simongan mulai ramai ditempati oleh pendatang Cina yang merantau ke Semarang dan lambat laun berkembang menjadi perkampungan. Dalam perkembangannya kawasan Simongan tumbuh menjadi perkampungan Cina pertama di Semarang dan menjadi ramai dengan penduduk yang berprofesi sebagai petani dan pedagang. Sayangnya pemberontakan pada tahun 1742 yang dilakukan oleh orang pribumi menyebabkan orang-orang Cina yang berada dikawasan Gedung Batu dipindahkan ke Pecinan (sekarang menjadi kawasan Gang Baru). Peristiwa pemindahan tersebut membuat tradisi yang ada di kelenteng Pecinan sama dengan tradisi yang ada di klenteng Gedung Batu atau dikenal dengan nama lain Klenteng Sam Poo Tay Djien atau Klenteng Sam Poo Kong.
Setelah berkeliling kompleks kuil, saya menemukan sesuatu yang unik. Sebuah bedug besar terpampang layaknya bedug yang berada di masjid-masjid. Sangat kontras dengan deretan lilin besar yang berderet di depannya. Informasi yang saya dapat menyebutkan bedug tersebut merupakan sebuah penghormatan terhadap mendiang Laksamana Cheng Ho yang beragama muslim.
Sayang sekali tidak ada data yang pasti tentang keberadaan masjid di dalam klenteng. Meskipun beberapa fakta bisa merujuk pada pembenaran hal tersebut seperti identitas Cheng Ho yang seorang muslim. Sering sekali dia mendirikan masjid pada tempat-tampat yang dikunjungi, layaknya Masjid Cheng Ho yang berada di Surabaya. Serta bedug yang masih berada di dalam kompleks bangunan mungkin salah satu benda yang tersisa dari masjid.
Hari mulai gelap. Suasana malam di dalam klenteng justru semakin indah dihiasi dengan lampu-lampu dan lampion. Meskipun tidak ada bukti yang saya dapatkan, tapi Klenteng Sam Poo Kong ini tetap memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda bagi saya. Selain memiliki nilai sejarah, bangunan tersebut juga mengisyaratkan adanya keragaman budaya di Indonesia. Menunjukkan toleransi yang tinggi di antara umat beragama. Bukan hal yang perlu disesali jika dulunya klenteng tersebut memang merupakan sebuah masjid yang dirombak. Justru kerukunan dan persatuan antar umat beragama tetap harus dipertahankan.

*suka ato ga suka, silahkan komen :)
thanks a lot~

Sunday, February 13, 2011

just intro :)



Assalamualaikum..
Fiiiuuuhhh, akhirnya Risa bikin blog (lagi). Tadinya Risa uda punya dua blog, tapi terabaikan (sampai lupa passwordnya apa). Sekarang harus memulai semuanya dari nol lagi dehh! Heheheeww..
Sebenernya blog yang kemarin juga jelek sih. Bikinnya asal-asalan. Tapi yang ini insya Allah pengen serius menekuni dunia blogging (haha, kita lihat nanti seberapa seriuskah? biasanya cuma bertahan beberapa kali posting aja).
Well, posting pertama Risa isi dengan cas cis cus ga penting about me! hehe :D
Risa is a simple and ordinary girl. Pokoknya biasaaaaa banget. Ga ada yang heboh ‘n spesial. Cuma narsisnya aja yang ga ketulungan. Suka banget jeprat jepret sana sini.. hihihii 
Tuh kan, narsis banget!! hehe.. tapi apa mau dikata, nasi telah menjadi narsis. Hohoo, maksudnya energi yang dihasilkan abis maem nasi berubah jadi energi narsisme.. (hakakaka l3b4y & 4L4y :D)
Risa sukaaa banget sama kucing! Saking sukanya, sifat kucingpun nular deh: mulai dari doyan tidur (pelornyaaaa minta ampun), males, sampe suka nyakar orang juga. Hihihihiii.. ga ding..
Risa sekarang kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Almamaternya kuning jreennnggg (berasa kaya anak UI,, hehe)
Ambil jurusan bahasa Indonesia (tapi jangan kaget kalo liat postingan ini ejaannya amburadul. Maklum, namanya aja blog; tempat mengekspresikan diri (^.^)/ )Sekarang uda semester tua tua, sangat amat tua. Berusaha untuk lulus tahun ini. Amiinnn.. Berjuang dengan skripsi..
Oia, ini dia keluarganya Risa:
What a happy family it is! Mama yang cantik (so pasti), papa yang ganteng (jelaaasss) trus dua anak cukup! hehe.. Tapi, semua yang membahagiakan pasti suatu saat harus berakhir. Suatu saat, semua orang akan menghadap ke Rahmatullah. Hmm,, mama uda ga ada tahun 2010 silam. Sediiihhh banget L But, sebagai anak yang sayang sama orang tuanya, Risa masih bisa mendoakan mama. Risa percaya, meskipun sulit, memang inilah yang terbaik buat mama (kapan-kapan pengen posting tentang mama ahhh). Miss u so much ma..

Yapp, itu aja dulu deh. Kapan-kapan ngepost lagi.
Thanks for visiting dear..
wassalamualaikum..