This is a story about my lovely mother. She is the best mother in the world. She is number one for me..
Claudia Mujiati…
Mungkin akan sedikit aneh mendengar nama “Claudia”. Ya, mama tadinya adalah seorang nasrani; katolik tepatnya. Kemudian saat bertemu dengan papa, beliau bertekad untuk menjadi seorang mualaf. Kalimat syahadat dilantunkan menjelang pernikahan..
Mama lahir di Semarang, 11 September 1961. Meskipun lahir di Semarang, tetapi sebenarnya darah Jogjalah yang mengalir dalam diri mama. Kedua orang tuanya (kakek dan nenek) adalah orang Jogja asli. Setelah melahirkan anak pertama dan kedua (mama anak keempat) di kota asal, mereka memutuskan untuk merantau ke Semarang. Begitulah, akhirnya mama lahir di Semarang. Tempat perantauan kakek dan nenek dan akhirnya menjadi tempat tinggal mereka.
Mama berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Kakek hanyalah seorang buruh pabrik roti. Sedangkan nenek hanya ibu rumah tangga yang mengurus keenam anaknya. Namun, dari kesederhanaan itulah, sifat mama menjadi sangat matang. Beliau memiliki pendirian yang teguh, bekerja keras, disiplin, dan sangat menjunjung tinggi tata karma dan kesopan santunan. Sesuatu yang tak bisa kulupakan darinya adalah rasa cinta terhadap kebudayaan Jawa. Entahlah, mungkin ikatannya terhadap budaya Jogja yang membuatnya seperti itu. Mama selalu mengajarkan pada anaknya untuk selalu menggunakan basa krama saat berbicara dengannya. Mamapun akan sangat tidak suka jika melihat anak-anak (Jawa khususnya) sekarang diajari untuk berbahasa Indonesia dalam kesehariannya.
“Mereka itu sok! Sok berbahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia itu mudah dipelajari. Lihat saja, bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Jadi, anak pasti akan bisa berbahasa Indonesia saat besar nanti. Lain halnya dengan basa krama. Bukan perkara mudah berbicara dengan bahasa Jawa yang santun. Jika tidak dipelajari dari kecil, tentu akan sangat sulit bagi mereka untuk menerapkannya dalam berkomunikasi. Lantas, siapa yang akan melestarikan bahasa Jawa jika anak-anak sekarang saja berbahasa Indonesia?”. Kira-kira seperti itulah yang selalu mama katakan saat melihat anak-anak tetangga di sekitar mulai berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa seperti yang mama harapkan. Mama sebenarnya juga orang yang sangat keras kepala. Jika ada sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikirannya, mama jarang bisa menerimanya. Contohnya saja melihat keponakan yang kesehariannya berbahasa Indonesia. Mama tak segan-segan untuk menegur kedua orang tua anak tersebut. Saat anak tersebut berbicara dengan mama tidak menggunakan basa karma, mama tidak akan menyahut apapun yang anak itu tanyakan padanya. Hmm, sedikit kejam. Tapi itulah mama. Meskipun keras, tapi maksud mama sangat mulia: melestarikan bahasa Jawa. Pesan mama kepada anak-anaknya: “Ajarilah anakmu menjadi orang Jawa yang berbudaya. Ajarilah sopan santun dan tata karma seperti orang Jawa. Ajarilah anakmu basa krama ketika berbicara dengan orang yang lebih tua darinya.”
Memang benar yang dikatakan mama. Jika generasi sekarang saja tidak mau melestarikan bahasa Jawa, maka bahasa Jawa akan semakin punah. Bisa-bisa orang Jawa nantinya akan belajar bahasa Jawa di negeri Belanda. Hal itu mungkin saja terjadi. Mengingat sekarang ini justru banyak sekali orang Belanda yang berbondong-bondong untuk mempelajari bahasa Jawa. Tragis.
*part 1- finish*






