Mama sering batuk akhir-akhir ini. Batuk kering. Setelah batuk, tenaganya terkuras habis. Lemah dan lunglai. Tapi mama hanya mengobatinya dengan minum air hangat. Setelah itu, berpura-pura. Menganggap semua itu hal yang biasa.
Kami sekeluarga sudah membujuknya berulang kali agar mau memeriksakan penyakitnya ke dokter. Namun mama selalu saja menolak. Padahal kami ingin mama segera terbebas dari batuk yang mengganggunya.
Setahun..
Tiap bangun tidur dan ketika malam datang, frekuensi batuk mama semakin menjadi. Mama menyimpulkan: alergi dingin. Minyak kayu putih, minyak cengkeh, minyak tawon, dan minyak kapak menjadi andalannya. Agar hangat katanya. Tak lupa, segelas air putih selalu disiapkan di samping tempat tidurnya. Mama sudah mau diajak ke dokter. Tapi nyatanya obat dari dokter sama sekali tidak mempan.
Dua tahun..
Mama semakin kurus. Pipinya semakin tirus saja. Pekerjaan rumah yang sekiranya menguras banyak energi tak lagi dilakukan. Kami memutuskan untuk meminta bantuan tetangga agar bisa membantu pekerjaan di rumah.
Pekerjaan rumah memang sudah tertolong, tapi karier mama semakin meningkat. Setelah lebih dari 25 tahun menjadi guru SD, akhirnya mama diberi kesempatan untuk menjadi kepala sekolah. Prestasi yang sangat membanggakan. Mengingat mama memang wanita yang tekun dan ulet dalam bekerja. Tetapi, saat menjadi kepala sekolah ternyata lebih melelahkan. Banyak hal yang harus dipikirkan. Bukan hanya tenaga yang terkuras, tapi juga pikiran. Mama semakin lemah..
Sebulan menjadi kepala sekolah. Akhirnya mama harus mengakui bahwa batuk yang dideritanya harus segera membutuhkan penanganan khusus. Mama sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang dideritanya selama dua tahun terakhir.
Papa berinisiatif untuk membawa mama ke rumah sakit. Dari hasil rontgen, ternyata paru-paru mama berisi cairan yang menyebabkan susah bernafas. Hari kedua di rumah sakit dilakukan penyedotan pada paru-paru. Tetapi, setelah itu cairan yang diambil akan dimasukkan ke laboratorium untuk dicek ulang dan diidentifikasi lebih lanjut.
Setelah cairannya diambil, mama malah semakin lemas dan seperti tidak berenergi. Untuk pergi ke kamar mandi saja semakin lemas. Batuknya juga masih sering. Padahal seharusnya kalau cairan itu yang menjadi penyebab batuk selama ini, tentu batuk dan penyakitnya akan semakin membaik…
Hari Jumat pagi,
Dokter memanggil papa, aku dan mbak tika yang kebetulan sedang menjaga mama. Mama ditinggal sendiri di kamar. Waktu itu dokter menyuruh kami duduk dan memastikan bahwa kami sudah mempersiapkan mental saat mendengar apa yang akan dikatakan dokter.
Hal burukkah yang akan disampaikan? Sampai aku harus mempersiapkan mental untuk mendengarnya? “Apapun itu, semua harus diterima dengan ikhlas”, kata dokter.
Dokter menjelaskan bahwa setelah cairan di paru-paru mama diambil, mama melakukan rontgen kedua untuk mengecek keadaan paru-parunya. Foto rontgen pertama dan kedua lantas diperlihatkan pada kami. Foto yang pertama, paru-paru mama tidak terlihat dengan jelas karena tertutup oleh cairan. Foto yang kedua jelas, tetapi jika diperhatikan terdapat bagian yang masih tertutup pada paru-paru bagian kiri. Dokter kemudian menjelaskan bahwa bagian yang masih tertutup itu belum dapat dipastikan sebelum melakukan pengecekan terhadap cairan yang telah diambil di laboratorium. Kebetulan tes hasil laboratorium itu belum dapat dilihat secara langsung, tetapi petugas laboratorium telah menelpon dokter dan mengungkapkan hasilnya.
“Sampel cairan yang diambil menunjukkan adanya pertumbuhan sel yang tidak wajar. Dalam hal ini, di dalam paru-paru Nyonya Claudia tumbuh sel yang tidak diinginkan: kanker”
Ya Allah, rasanya aku ingin menjerit sejadi-jadinya. Tapi aku justru tak bisa berkata apa-apa. Aku linglung untuk beberapa saat. Kemudian aku mendengar papa menyebut Asma Allah dan mulai menangis. Begitu pula dengan mbak Tika. Dia sudah tak bisa menghentikan air matanya. Aku lantas membayangkan mamaku yang sekarang tergolek di tempat tidur rumah sakit ini telah mengidap kanker dan mengacuhkan rasa sakit yang selama ini dia derita. Air mata pun akhirnya jatuh juga. Papa memelukku erat-erat dan menyuruhku untuk menerima semua ini. Apalagi dokter menyebutkan bahwa kanker yang ada dalam paru-paru mama sudah stadium 3.
Astaghfirullahaladzim..
Masih dengan mata yang berkaca-kaca, papa menyuruhku untuk menemani dan menyuapi mama. Aku berusaha untuk tegar. Aku tak ingin mama tahu apa yang baru saja dikatakan dokter. Kalau mama tahu, pasti mama akan semakin tidak bersemangat untuk sembuh..
*part 2- fini*