Friday, July 15, 2011

Semakin Dekat dengan Waktunya..


Postingan ini lanjutan dari postingan yang dulu mengenai sakitnya mama. Silahkan disimak…

Semenjak aku, papa, dan Mbak Tika mengetahui penyakit yang diderita mama, kami semakin intens dalam merawat beliau. Akhirnya pihak rumah sakit angkat tangan dengan penyakit yang mama derita. Delapan hari dirawat di rumah sakit, mama diperbolehkan pulang. Bukan karena sudah sembuh, tapi menurut dokter sebaiknya mama akan merasa lebih nyaman berada di rumah ketimbang di rumah sakit. Ya, aku paham. Maksudnya karena harapan mama sudah tipis maka mama lebih baik berada di tengah-tengah keluarga saja menjelang akhir hayatnya. Meskipun tidak ada orang yang tahu kapan manusia akan berpulang kecuali Allah.

Mama dirawat di rumah sekitar dua bulan dengan tetap setia kontrol tiap dua minggu dan mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter. Mbak Tika yang waktu itu baru beberapa bulan menjadi pengantin baru harus rela berpisah dengan suaminya untuk mengurus mama di rumah. Kebetulan saat itu Mbak Tika belum mendapat pekerjaan dan masih menunggu pengumuman tes CPNS Kab. Kendal. Papa dan Mbak Tika secara bergantian merawat mama, karena beliau hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tubuhnya masih saja lemas. Bila ingin ke kamar mandi masih harus diantar. Sedangkan aku hanya bisa bertemu tiap akhir pekan saja karena jadwal kuliah masih padat.

Selama dirawat di rumah, beberapa pengobatan alternatif dicoba untuk mengupayakan kesembuhan mama. Misalnya saja dengan pijat dan totok darah. Tetapi efeknya hanya terasa satu sampai dua hari saja. Setelah itu tubuh mama tidak merasa fit lagi. Kemudian atas rekomendasi salah seorang kerabat papa, kami berinisiatif membawa mama ke pengobatan alternatif yang ada di Muntilan, Magelang. Di sana medianya adalah telur ayam kampung. Telur ayam itu dioles-oleskan pada bagian yang sakit. Ketika sudah selesai, telur itu dibuka dan kuning telur berubah menjadi gumpalan darah. Setelah selesai, mama diberi beberapa obat herbal untuk dikonsumsi setiap harinya. Setelah mengantar mama ke Muntilan pada hari Minggu, keesokan harinya aku harus pulang lagi ke Semarang untuk kuliah. Tapi anehnya, pada malam Senin sebelum aku berangkat ke Semarang ada perasaan yang tidak wajar. Malam itu rasanya ingin tidur di dekat mama. Begitu juga dengan papa dan Mbak Tika. Jadinya, dalam satu ruangan kami berempat tidur seruangan. Mama, Mbak Tika, dan aku di tempat tidur, sedangkan papa di kursi panjang.

Belum ada seminggu, tapi aku kangen sekali dengan mama. Hari kamis sore aku mengirimkan sms untuk Mbak Tika menanyakan kabar mama. Lamaaa sekali tak kunjung dibalas, lalu menjelang maghrib baru ada balasan yang isinya: Mama dibawa ke rumah sakit lagi dek, doakan mama supaya cepat sembuh. Aku tak bisa menahan air mata karena perasaan tidak enak ini ternyata terjawab dengan kondisi mama yang semakin menurun. Aku sedih bercampur kawatir karena tidak bisa mengetahui langsung bagaimana kondisi mama. Rasanya ingin segera menyusul ke sana tapi masih ada kuliah di sini.

Hari Jumat, aku baru bisa pulang ke rumah. Itupun tidak bisa segera menengok mama karena rumah sakitnya di Salatiga dan tak ada seorangpun yang bisa mengantar. Katanya pada hari Minggu, keluarga besar baru bisa kesana dan itulah kesempatanku bisa bertemu mama. Ya Allah.. rasanya aku sudah tidak tenang dan ingin segera bertemu mama. Kenapa harus menunggu sampai hari Minggu? Apakah mereka tidak tahu rasanya seorang anak yang ingin bertemu ibunya yang sakit?

Malam Minggu, tak ada seorangpun di rumah karena papa , mama, dan Mbak tika di rumah sakit. Akhirnya, nanti malam tidurku akan ditemani simbah. Sekitar jam 7, aku menonton TV sendirian karena simbah sedang ke mushola. Tak terasa lama kelamaan malah tertidur di kursi. Tiba-tiba saja listrik padam dan spontan aku terbangun. Dari kecil aku tidak suka kalau  mati lampu, karena rasanya gelap seperti tidak bisa bernafas. Tiap lampu padam dan suasana gelap gulita, secara refleks aku akan terbangun dan pasti akan berteriak ketakutan memanggil nama mama. Nantinya mama dengan setengah berlari akan masuk ke kamarku membawa senter ataupun lilin untuk penerangan. Begitu juga malam itu,secara refleks aku berteriak-teriak memanggil nama mama. Lama sekali mama tak kunjung datang. Kemudian ada suara yang mengagetkanku. Ternyata itu suara simbah. Astaghfirullah.. Aku lupa kalau sekarang mama sedang di rumah sakit. Sediiihhhh sekali rasanya mengingat mama tidak ada di rumah dan aku belum bisa bertemu dengannya.
Simbah menyuruhku untuk sholat isya dan menyalakan lilin. Tapi sebelum menyalakan lilin, ternyata lampunya sudah menyala lagi. Akhirnya aku bergegas untuk sholat isya dan diakhir sholat mendoakan mama: Ya Allah, berilah kesembuhan untuk ibu hamba. HambaMu ini belum bisa membahagiakan orang tua. Sembuhkanlah ibu hamba, agar beliau nantinya bisa melihat anaknya ini lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan yang layak, kemudian nantinya menikahi orang yang sholeh dan memberikan cucu yang sholeh dan sholehah untuk ibu hamba. Berikanlah kesempatan itu Ya Allah… Hamba juga ingin agar bisa membantu orang tua menuju tanah suci… Hamba mohon kabulkanlah doa hambaMu ini dan hanya kepadaMu lah hamba memohon.
Terlalu mulukkah doaku ini? Tapi, itulah yang aku inginkan. Meskipun aku tahu kanker yang ada di  paru-paru mama sudah stadium 3, tak ada salahnya untuk mencoba memohon kepada Allah.

Seusai sholat, aku dan simbah bergegas untuk tidur. Sekitar jam 12 ada telepon yang masuk. Ternyata telepon dari papa. Perasaan tidak enak muncul lagi. Ya Allah.. semoga bukan kabar yang hamba takutkan… Dengan cepat telepon itu kuangkat. Dan dari seberang sana papa dengan suara bergetar mengatakan: “Dek, doakan mama ya. Di sini kondisi mama semakin kritis dan kadangkali mengigau mengucapkan kat-kata yang aneh. Dek Risa disitu gak boleh sedih. Dek Risa harus kuat dan terus mendoakan kesembuhan mama.”

Astaghfirullah, air mata sudah tidak dapat terbendung lagi. Aku menangis sejadi-jadinya memohon kepada papa agar bisa berbicara dengan mama. Paling tidak, biarkan aku mendengarkan suara mama. Jika memang malam itulah malam terakhir mama. Biarkan aku mendengar suara ibunda tercinta yang sudah kumiliki selama 20 tahun ini. Untuk sesaat papa terdiam, sepertinya melihat ke arah mama. Kemudian papa memutuskan menolak permintaanku. Beliau mengatakan mama menolak untuk bicara denganku. Pasti mama akan tambah sedih dan menangis malam itu jika berbicara denganku yang sedang menangis. Kemudian telepon ditutup dari seberang.

Aku hanya bisa mengeluarkan air mata terus menerus. Simbah yang melihatku menangis memberanikan diri bertanya siapa yang menelpon dan kenapa sampai aku menangis. Setelah kujelaskan, simbah malah ikut-ikutan menangis. Simbah melihatku dengan iba dan mulai memelukku yang berbaring di tempat tidur sambil terus menangis tersedu-sedu.

*part 2- fini*

Wednesday, July 13, 2011

Wanna Remember..


Draft posting ini uda lama banget di laptop, tapi entah lupa atau ga sempet baru bisa posting sekarang. Heheheheee :D

Kita hidup di masa kini untuk meraih sesuatu di masa depan. Masa lalu takkan bisa terulang, jadikan masa lalu sebagai pengalaman. Yapp, begitulah kira-kira. Seringkali kata-kata itu terdengar sebagai penyemangat untuk hidup. Tak usah menengok yang lalu. Namun bagiku, mengingat masa lalu memberikan sensasi yang berbeda. Seringkali aku tersenyum sendiri, geli dan berpikir: kok bisa sih dulu aku kaya gini?

Beberapa hari yang lalu, saat membersihkan rumah, kutemukan sebuah kotak sepatu yang berisi mainanku saat SD dulu. Ada kalung, gelang, bros, dan berbagai pernak-pernik yang ternyata kusimpan dengan baik. Semuanya terbungkus plastik. Aku hanya tersenyum melihat sisa-sisa masa kecilku. Masa kecil yang berisi ide-ide gila dan kreatif! Yaa, kadang aku melakukan eksperimen kecil-kecilan dengan membuat kalung dari manik-manik, lantas membayangkan menjadi seorang putri (hahaha). Setelah itu, berbicara sendiri di depan kaca dengan bahasa Indonesia yang dibuat-buat. OMG!! Mengingat masa lalu itu: seru !

Hari ini, aku membuka buku diary yang ternyata sudah dua tahun terabaikan. Buku diaryku ada stroberinya gitu! Dulu (tahun 2008) seneng banget tiap malam sebelum tidur nulis diary. Mengungkapkan hari ini apa yang aku lakuin, apa yang aku rasain. Pokoknya be honest saat nulis diary. Gak ada yang ditutup-tutupi. Jadi inget, tahun  2008 tu tahun aku jadian sama pacar. Disitu tertera semua gimana awalnya bisa deket sama dia. So sweet banget deh! Gak nyangka dulu aku suka nulis juga. Meskipun cuma diary, tapi memberikan efek yang luar biasa. Aku jadi pengen rajin nulis lagi. Posting ini yang jadi buktinya! hehe, semoga.

Abis baca-baca diaryku sendiri, jadi kepikiran diarynya mama. Seminggu sebelum mama meninggal, mama sempet nitipin diary plus kuncinya buatku. Katanya, boleh dibuka kalau mama uda meninggal (hmm.. sedih banget kalo inget ini; tragis).
Diary mama aku simpen di tempat khusus, jadi satu sama beberapa buku kuno milik mama. Niat awal sih pengen baca diary, tapi kadang gak kuat baca isinya. So, akhirnya cuma baca buku kuno yang covernya masih bermotif batik, trus kertasnya warna krem (sama sekali uda ga putih). Di buku itu ada kumpulan lagu (lagu jadul), puisi karya mama, cerpen, trus beberapa surat. Buku itu buku jaman mama masih SPG (setaraf SMA). Lucu banget bacanya. Jadi bisa kaya keseret ke era 80an. Masa-masa mama masih pacaran sama mantannya yang orang Solo (that’s not my dad). Masa dimana mama masih belum muslim. Keterampilan mama dalam hal menulis emang bagus banget. Mama suka bikin puisi sama cerpen. Kata-katanya juga bagus kok! Jadi mikir, mungkin aku suka nulis juga gara-gara menurun dari mama. hehe, pede jreeenngggg :P
Kalau gak males, aku bakalan ngepost beberapa cerpennya mama. Doakan saja rasa malas gak nempel terus sama aku.

Kadang hal-hal yang berasal dari masa lalu itu menyenangkan buat diingat. Kalau lagi suntuk, mengingat hal-hal yang lalu membuatku memiliki semangat baru. Menemukan sesuatu yang sudah lama ini kutinggalkan. Mengerti bagaimana aku yang dulu dan yang sekarang sudah berbeda.
Semangat teman! Hidup memang di hari ini untuk menggapai hari esok. Tapi mengingat masa lalu bisa dijadikan penyemangat hari ini untuk esok!
hahaha, biarpun kata-katanya ribet dan gak bisa dipahami yang penting nulis nulis dan nulissssss ^^

Thanks for visiting

Memulai kegilaan dari Gumiho

Lama lama lama lamaaaaaaaaaa ga posting... (----_----‘)

Hufftt, sepertinya semakin tua malah semakin menjadi-jadi malasnya. Buka laptop cuma buat nonton film doang. Yaiiikkzzz,, akhir-akhir ini uda kena virus drama and film korea. Jadinya menyempatkan waktu nulis postingan aja mualesssnyooo minta ampun!

Berawal dari film-film korea (uda ada di postingan sebelumnya), akhirnya mulai beralih ke serial korea. Ceritanya di suatu hari yang tidak cerah juga tidak mendung (atau Risa lupa gimana situasinya, haha) adek kos ngumpul-ngumpul di kamar sambil melototin satu laptop. Pada ngapain sih mereka? Yaudin, akhirnya Risa penasaran juga. Ternyata oh ternyata mereka lagi pada nonton film. Spontan dong tanya: “film apaan sih?” And they answer: “gumiho mbak!” Hadeehhh, apa maning kie? So many film yang uda ta tonton. Kayanya ga ada salahnya nih ngopi! (jiahahahaha :D)

Finally, berkat bantuan flashdisk pinjem dari adek kos yang 4 Giga (gak modal :P ) bisa ngopi serial Gumiho ini (judul aslinya My Girl Friend is Gumiho). Pake fd 4 giga aja kudu dua kali ngopi, soalnya ada 16 episode. Mulailah dari hari itu mantengin laptooopppp mulu. Maklum semester tua uda jarang ke kampus. Pagi itu lagi ga kluar sama pacar (hehe), Risa nonton serial gumiho sambil tiduran di kamar. Episode 1-6 (total 6 jam) Risa babat habis dari pagi sampe siang. Itupun kalo pacar ga ngajakin makan siang, palingan masih betah tuh di depan lepi. But, di episode 6 ini uda mulai asik banget ceritanya. Uda pengen cepet-cepet nonton lagi. Di jalan aja sampe kebayang-bayang adegan di film (wah, kejiwaan mulai terganggu nih). Abis kluar sama pacar, sorenya lanjut deh episode 7-8 dari sore sampe maghrib! Fiuuhhh…

Nah, uda separo perjalanan. Ceritanya makin seru aja! Makin ngegemesin. Makin penasaran!! Huhuhuuu.. Walhasil, abis dinner lanjut nonton. Lucunya pas nonton episode ini, temen sekamarku ikut-ikutan. Biasa, pertamanya tanya: nonton apa sih? Dan akhirnya Risa jelaskan: nonton Gumiho, ceritanya gini, jadi itu, trus begini, konfliknya kaya gitu, bla bla blaa.. Eehh,, temenku malah ikut-ikutan nonton! Padahal, dia anti korea!! hahaha :D

Kita berdua asik banget nonton Gumiho, padahal sebenarnya mata uda ngantuk. Ehhh, pas mau udahan malah konfliknya seru banget. Si Gumihonya dijahatin sama musuhnya trus antara mati ato gak! Temenku bilang sambil ketawa: “haha, beneran nih mo tidur? Seru banget lho!” Huuuaaaaa, akhirnya dengan mata melotot masih setia nonton Gumiho sampe episode yang endingnya baguuuusssss banget!! Miho sama Dae Wong romantis-romantisan gitu. Haaahhhhh,, tidur nyenyak nih akhirnya. Mata uda ga kuat, laptop juga uda panaassss.
Hari berikutnya, lanjut lagi nih! Buseeettt dah, niat banget nonton Gumiho. Kali ini nontonnya berdua sama temenku lagi. Ni anak uda kehipnotis nih, gamau melewatkan serial Gumiho. Hahaha :D

Tapi tapi tapi tapiiiiii, pas asik-asiknya nonton Gumiho ada sms. My beloved boyfriend ngajakin maem. Dilema banget tuh! Pengen nonton terus, tapi masa iya aku gamau maem sama pacar gara-gara film? Hmmm,, yasudahlah Gumihonya nanti lagi. But, pas Risa pergi temenku masih setia nonton. Ckckckck, ni anak hebat banget. For the first time nonton korea sampe segitunya. Tapi Risa uda pesen sama dia. Apapun yang terjadi di film tu gausah cerita. Ntar Risa bakalan nonton dengan mata kepala sendiri. Xixixixi…

Beneran, abis kluar sama pacar langsung buka lepi jebreeettt! Ambil posisi paling enak trus mantengin Gumiho lagi. Huaaaa,, beberapa episode akhir bikin nangiiissss. Pokoknya harus selese hari itu juga! And bener aja, hari itu akhirnya bisa liat endingnya. Hahaha, kalo diinget-inget gila juga. Masa 16 episode ditonton dua hari.

Abis nonton Gumiho, temen sekamarku malah “keedanan” sama si Dae wong (Lee Seung Gi). Wis toh, pokokmen melebihi gilanya Risa. Mulai nyari biodata, foto-foto, lagu soundtrack, dan seeeeeterusnya. Berawal dari Gumiho juga, temenku jadi bandar serial korea. Yang tadinya anti korea justru jadi tergila-gila sama korea. Parahnya lagi sampe nularin virus ini ke temen-temennya. Walhasil, virus semakin menjalar dan tidak terbendung… >.<

Pas Risa nulis postingan ini, dianya juga lagi nonton serial korea. Maafkan Gumiho ya Lin, sudah membuatmu begini. Hehehe..
Begitulah awal cerita kemalasanku gara-gara nonton korea. Abis Gumiho, lanjut nonton Secret Garden sama Playfull Kiss (sebelum ada di Tv). Haaassshhh, cukup! Risa rehat sejenak ngopi. Tapi beberapa waktu kemudian akhirnya ngopi yang lain juga (tetap saja tergoda :P)

Pesan Risa untuk yang belum terinfeksi sebaiknya jangan sampai tergoda. Sekalinya nonton gak bisa berhentiiiii.. Pasti mau lagi dan lagi.. >,<