Postingan ini lanjutan dari postingan yang dulu mengenai sakitnya mama. Silahkan disimak…
Semenjak aku, papa, dan Mbak Tika mengetahui penyakit yang diderita mama, kami semakin intens dalam merawat beliau. Akhirnya pihak rumah sakit angkat tangan dengan penyakit yang mama derita. Delapan hari dirawat di rumah sakit, mama diperbolehkan pulang. Bukan karena sudah sembuh, tapi menurut dokter sebaiknya mama akan merasa lebih nyaman berada di rumah ketimbang di rumah sakit. Ya, aku paham. Maksudnya karena harapan mama sudah tipis maka mama lebih baik berada di tengah-tengah keluarga saja menjelang akhir hayatnya. Meskipun tidak ada orang yang tahu kapan manusia akan berpulang kecuali Allah.
Mama dirawat di rumah sekitar dua bulan dengan tetap setia kontrol tiap dua minggu dan mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter. Mbak Tika yang waktu itu baru beberapa bulan menjadi pengantin baru harus rela berpisah dengan suaminya untuk mengurus mama di rumah. Kebetulan saat itu Mbak Tika belum mendapat pekerjaan dan masih menunggu pengumuman tes CPNS Kab. Kendal. Papa dan Mbak Tika secara bergantian merawat mama, karena beliau hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tubuhnya masih saja lemas. Bila ingin ke kamar mandi masih harus diantar. Sedangkan aku hanya bisa bertemu tiap akhir pekan saja karena jadwal kuliah masih padat.
Selama dirawat di rumah, beberapa pengobatan alternatif dicoba untuk mengupayakan kesembuhan mama. Misalnya saja dengan pijat dan totok darah. Tetapi efeknya hanya terasa satu sampai dua hari saja. Setelah itu tubuh mama tidak merasa fit lagi. Kemudian atas rekomendasi salah seorang kerabat papa, kami berinisiatif membawa mama ke pengobatan alternatif yang ada di Muntilan, Magelang. Di sana medianya adalah telur ayam kampung. Telur ayam itu dioles-oleskan pada bagian yang sakit. Ketika sudah selesai, telur itu dibuka dan kuning telur berubah menjadi gumpalan darah. Setelah selesai, mama diberi beberapa obat herbal untuk dikonsumsi setiap harinya. Setelah mengantar mama ke Muntilan pada hari Minggu, keesokan harinya aku harus pulang lagi ke Semarang untuk kuliah. Tapi anehnya, pada malam Senin sebelum aku berangkat ke Semarang ada perasaan yang tidak wajar. Malam itu rasanya ingin tidur di dekat mama. Begitu juga dengan papa dan Mbak Tika. Jadinya, dalam satu ruangan kami berempat tidur seruangan. Mama, Mbak Tika, dan aku di tempat tidur, sedangkan papa di kursi panjang.
Belum ada seminggu, tapi aku kangen sekali dengan mama. Hari kamis sore aku mengirimkan sms untuk Mbak Tika menanyakan kabar mama. Lamaaa sekali tak kunjung dibalas, lalu menjelang maghrib baru ada balasan yang isinya: Mama dibawa ke rumah sakit lagi dek, doakan mama supaya cepat sembuh. Aku tak bisa menahan air mata karena perasaan tidak enak ini ternyata terjawab dengan kondisi mama yang semakin menurun. Aku sedih bercampur kawatir karena tidak bisa mengetahui langsung bagaimana kondisi mama. Rasanya ingin segera menyusul ke sana tapi masih ada kuliah di sini.
Hari Jumat, aku baru bisa pulang ke rumah. Itupun tidak bisa segera menengok mama karena rumah sakitnya di Salatiga dan tak ada seorangpun yang bisa mengantar. Katanya pada hari Minggu, keluarga besar baru bisa kesana dan itulah kesempatanku bisa bertemu mama. Ya Allah.. rasanya aku sudah tidak tenang dan ingin segera bertemu mama. Kenapa harus menunggu sampai hari Minggu? Apakah mereka tidak tahu rasanya seorang anak yang ingin bertemu ibunya yang sakit?
Malam Minggu, tak ada seorangpun di rumah karena papa , mama, dan Mbak tika di rumah sakit. Akhirnya, nanti malam tidurku akan ditemani simbah. Sekitar jam 7, aku menonton TV sendirian karena simbah sedang ke mushola. Tak terasa lama kelamaan malah tertidur di kursi. Tiba-tiba saja listrik padam dan spontan aku terbangun. Dari kecil aku tidak suka kalau mati lampu, karena rasanya gelap seperti tidak bisa bernafas. Tiap lampu padam dan suasana gelap gulita, secara refleks aku akan terbangun dan pasti akan berteriak ketakutan memanggil nama mama. Nantinya mama dengan setengah berlari akan masuk ke kamarku membawa senter ataupun lilin untuk penerangan. Begitu juga malam itu,secara refleks aku berteriak-teriak memanggil nama mama. Lama sekali mama tak kunjung datang. Kemudian ada suara yang mengagetkanku. Ternyata itu suara simbah. Astaghfirullah.. Aku lupa kalau sekarang mama sedang di rumah sakit. Sediiihhhh sekali rasanya mengingat mama tidak ada di rumah dan aku belum bisa bertemu dengannya.
Simbah menyuruhku untuk sholat isya dan menyalakan lilin. Tapi sebelum menyalakan lilin, ternyata lampunya sudah menyala lagi. Akhirnya aku bergegas untuk sholat isya dan diakhir sholat mendoakan mama: Ya Allah, berilah kesembuhan untuk ibu hamba. HambaMu ini belum bisa membahagiakan orang tua. Sembuhkanlah ibu hamba, agar beliau nantinya bisa melihat anaknya ini lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan yang layak, kemudian nantinya menikahi orang yang sholeh dan memberikan cucu yang sholeh dan sholehah untuk ibu hamba. Berikanlah kesempatan itu Ya Allah… Hamba juga ingin agar bisa membantu orang tua menuju tanah suci… Hamba mohon kabulkanlah doa hambaMu ini dan hanya kepadaMu lah hamba memohon.
Terlalu mulukkah doaku ini? Tapi, itulah yang aku inginkan. Meskipun aku tahu kanker yang ada di paru-paru mama sudah stadium 3, tak ada salahnya untuk mencoba memohon kepada Allah.
Seusai sholat, aku dan simbah bergegas untuk tidur. Sekitar jam 12 ada telepon yang masuk. Ternyata telepon dari papa. Perasaan tidak enak muncul lagi. Ya Allah.. semoga bukan kabar yang hamba takutkan… Dengan cepat telepon itu kuangkat. Dan dari seberang sana papa dengan suara bergetar mengatakan: “Dek, doakan mama ya. Di sini kondisi mama semakin kritis dan kadangkali mengigau mengucapkan kat-kata yang aneh. Dek Risa disitu gak boleh sedih. Dek Risa harus kuat dan terus mendoakan kesembuhan mama.”
Astaghfirullah, air mata sudah tidak dapat terbendung lagi. Aku menangis sejadi-jadinya memohon kepada papa agar bisa berbicara dengan mama. Paling tidak, biarkan aku mendengarkan suara mama. Jika memang malam itulah malam terakhir mama. Biarkan aku mendengar suara ibunda tercinta yang sudah kumiliki selama 20 tahun ini. Untuk sesaat papa terdiam, sepertinya melihat ke arah mama. Kemudian papa memutuskan menolak permintaanku. Beliau mengatakan mama menolak untuk bicara denganku. Pasti mama akan tambah sedih dan menangis malam itu jika berbicara denganku yang sedang menangis. Kemudian telepon ditutup dari seberang.
Aku hanya bisa mengeluarkan air mata terus menerus. Simbah yang melihatku menangis memberanikan diri bertanya siapa yang menelpon dan kenapa sampai aku menangis. Setelah kujelaskan, simbah malah ikut-ikutan menangis. Simbah melihatku dengan iba dan mulai memelukku yang berbaring di tempat tidur sambil terus menangis tersedu-sedu.
*part 2- fini*